Sabtu, 30 Juli 2011

Review Drama: IRIS

Baru pertama ini nonton sesuatu yang judulnya justru make nama musuhnya.IRIS adalah drama seri Korea yang lumayan jauh beda dengan drama-drama Korea biasanya.

Kisahnya berputar di sekeliling Kim Hyun Jun, seorang agen rahasia NSS milik Korea Selatan. Saking rahasianya, NSS bahkan baru diketahui oleh presiden setelah lebih dari 20 tahun beroperasi.

 Hyun Jun saat pelatihan militer bersahabat dengan Jin Sa Woo yang kemudian menjadi rekannya di NSS. Di NSS mereka juga bertemu dengan Choi Seung Hee, ketua tim anti teroris, atasan mereka.

Seperti drama pada umumnya, keduanya menyukai Seung Hee tetapi Hyun Jun-lah yang beruntung. Semua berjalan dengan aman tenteram hingga pada suatu saat Hyun Jun diutus untuk misi tunggal di Hungaria, yaitu membunuh seorang tokoh penting dari Korea Utara.

Mission complete tetapi Hyun Jun terluka. Ia meminta Baek San, direktur NSS yang memberinya perintah langsung agar mengirimkan bantuan untuk membawanya keluar dari Hungaria. Baek San mengutus Sa Woo, tetapi diluar dugaan Hyun Jun, Sa Woo ternyata diutus Baek San untuk membunuh Hyun Jun.

Hyun Jun sekarang menjadi buruan tiga negara sekaligus, saat ia memberitahu Seung Hee yang juga sedang berada di Hungaria, ia berniat untuk membantu Hyun Jun. Saat Hyun Jun meninggalkan Seung Hee untuk membeli tiket kereta, keberadaannya diketahui oleh polisi. Mereka mengejar Hyun Jun hingga keluar dari stasiun kereta. Saat itulah Hyun Jun melihat mobilnya dimana Seung Hee sedang menunggu di dalamnya meledak.

Hyun Jun yang sudah putus asa terus berlari dengan meyakini Seung Hee sudah tewas. Saat Hyun Jun mencoba melarikan diri menggunakan sebuah pesawat, Sa Woo menembak pesawat yang ditumpangi Hyun Jun hingga jatuh. 

Dan di dua negara yang terpisah jauh, Seung Hee dan Hyun Jun yang ternyata selamat sama-sama meyakini kalau yang lain sudah tewas. 

Hyun Jun berniat kembali ke Korea dan membalas dendam, dan diapun bersama dengan Seon Hwa, salah satu agen Korea Utara yang tadinya memburunya, bergabung dengan sekelompok teroris yang berencana mengacaukan pertemuan antar Korea Selatan dan Utara tanpa mengetahui kalau semua yang dilakukannya ternyata sudah direncanakan oleh IRIS.

Sekali nonton gabisa berenti. Jalan ceritanya mirip 24 dan Bourne Series, kisahnya terus berjalan karena tokoh utamanya selalu dikejar dan terus mencari-cari informasi.

Sebenernya tokohnya juga bukan mereka berlima saja, ada Vick si pembunuh berdarah dingin IRIS yang terlibat roman singkat dengan Mi Jeong programmer NSS, Jung In teman Seung Hee yang rela melakukan apa saja demi menolong Seung Hee, Park Sang Hyun atasan Seung Hee yang pertama kali mencurigai bosnya sediri sebagai anggota IRIS, Park Cheol Young atasan Seon Hwa yang senasib dengan Seon Hwa dan terjebak ikut merencanakan terorisme, atasan Park Cheol Young yang ternyata memimpin teroris dan berencana melakukan kudeta di Korea Utara, Presiden dan anak-anak buahnya yang ternyata selain memiliki orang dalam di NSS tetapi ada juga yang ternyata anggota IRIS.

Tipikal film dengan bekgron politik, ada banyak sekali karakter dan dramanya selalu berakhir tragis ^^. Tapi salah satu yang patut ditonton karena.. jarang-jarang ada drama yang seribet ini dan gabisa ketebak apa yang bakalan terjadi :D

Selasa, 03 Mei 2011

Minggu, 01 Mei 2011

Fiction: Sesuatu Itu...

Bisa dibilang aku kurang setuju dengan murid-murid (pada umumnya) di sekolahku. Kalau aku setuju, itu artinya sama dengan aku merestui nama baru untuk sekolah kami. Celebrity High School.

Hah! Menggelikan!

Kuberi satu contoh, kebetulan yang ini masih hangat. Sebenarnya ada banyak, tapi dengar saja yang ini.

Hari minggu lalu Randy tertangkap kamera dan disiarkan secara langsung di sebuah stasiun tv swasta dalam half time show di sebuah pertandingan basket nasional. Dia termasuk 1 dari 5 orang yang mencoba tembakan three points (mungkin dia cuma ingin masuk tv karena aku sama sekali tidak yakin dia bahkan bisa memasukkan satu bola dari garis free throw). Pak Yoga sang guru olahraga yang melihatnya secara tidak sengaja (karena seekor lalat yang dipukulnya mati tergencet di layar tevenya), tepat di pagi hari berikutnya sudah menceritakan hal itu pada anak-anak yang sedang berolahraga. Dua hari kemudian cewek-cewek di sekolah sudah mulai ramai membahas Randy. Bahkan gosipnya, kapten tim basket sekolah sudah mendekati Randy untuk bergabung dalam tim. Dialah artist of the week di sekolah.

Aku tidak habis pikir kenapa mereka tidak membuat audisi saja. Seorang artis itu haruslah keren. Dan jelas. Maksudku, harus jelas tentang apa yang dilakukannya. Seperti Kak Liam contohnya.

Lumayan banyak yang tertarik padanya. Saat masih kelas satu, hampir semua cewek-cewek di kelasku terpesona dengan sikap pemimpinnya yang terlihat tenang, bijak, dewasa, kalem dan sebagainya dan sebagainya. Walau begitu, sebenarnya dia cukup galak dan sangat disegani. Bahkan guru-guru kalau berbicara dengannya tidak seperti berbicara pada murid, tetapi pada seseorang selevel mereka.

Dia adalah kapten tim sepak bola sekolah. Kulitnya gosong, tampangnya agak galak dan selalu kelihatan serius. Suaranya juga agak serak karena dia sering berteriak. Tapi aku juga pernah mendengarnya berbicara dengan sangat lembut. Tubuhnya tinggi dan atletis, walaupun agak kurus. Dia adalah mantan ketua OSIS di sekolah. Waktu masa orientasi, dia sering menunjukkan pandangan mata pembunuhnya padaku karena waktu itu aku berpikir kalau aku mencari sedikit masalah, maka kakak kelas bisa dengan mudah mengenalku (mungkin karena itu hanya aku yang memperhatikan kalau matanya berwarna coklat, dan kalau tersenyum, dia manis sekali).

Oh! 
Satu lagi. Berani taruhan! Hanya aku yang pernah mendengarnya menyanyi (walaupun itu sempat mengurangi poin kekagumanku, suaranya sumbang! Dia langsung berhenti menyanyi waktu melihatku mengernyit).

Panjang umur! Dia baru saja lewat di sisi jendela bangkuku. Di depanku, saat melihat Kak Liam lewat, Leny langsung berkonsentrasi penuh pada pelajaran Pak Setio (guru sejarah paling bersejarah di sekolah). Padahal ceritanya tentang betapa pandainya manusia purba menemukan kapak batu lebih terdengar seperti petuah nenek moyang yang membosankan. OK! Mungkin kalau mereka tidak menemukan kapak batu, kita tidak akan mengenal benda jaman millennium yang kita sebut dengan pisau dapur. Itu keren!

Hanya beberapa menit setelah Kak Liam lewat, aku sudah mulai bosan lagi. Enak sekali anak-anak kelas 3. Mereka sering pulang lebih awal karena pelajaran mereka yang jauh lebih sedikit ketimbang kami anak-anak kelas satu dan dua. Lagipula kadang mereka hanya tinggal lebih lama untuk bertemu dengan wali kelas dan mengkonsultasikan apa yang sebaiknya mereka lakukan setelah lulus nanti. Aneh juga, karena rasanya, setelah lulus nanti kita seperti diutus keluar untuk berperang.
Sebuah gulungan kertas mendarat di depanku, dan setelah wajahku berputar hingga sembilan puluh derajat, aku melihat Ikki menunjuk-nunjuk Heri yang sudah lepas landas di balik diktat sejarahnya. Aku menyikut perut Heri dan dia terlonjak. Dengan mata merah dan wajah bingung dia bertanya padaku dengan panik.

"Hah? Apa?"

Aku mengulurkan gulungan kertas Ikki padanya. Dengan tampang kesal dan malas-malasan dia mulai membacanya. Setelah itu tampangnya menjadi makin kesal. Tapi yang dikatakannya malah membuatku bersemangat.

"Hah! Latihan bola jam 3?! Serius nih Liam?!"

Jam 3 ya? Setelah selesai dengan praktek biologi nanti, mungkin aku mau mampir ke lapangan bola sebentar. Hey! Asal tahu saja ya! Kalau Kak Liam sudah turun di lapangan, aku rela meninggalkan final piala dunia sekalipun (karena aku bisa menonton siaran tundanya di teve). Kalau Kak Liam sudah turun dan memberi komando di lapangan, itu kelihatan keren sekali!!!.
Setelah menjawab iya tanpa bersuara pada Ikki, Heri mendengus kesal dan kembali di runway-nya. Bersiap untuk lepas landas lagi.

Rencanaku untuk tinggal sebentar di sekolah dan menonton Kak Liam berlatih ditentang keras oleh teman-temanku yang sama sekali tidak memahami letak kekerenan Kak Liam karena menurut mereka, Kak Liam itu terlalu galak dan mengerikan dan terlalu tampak berkuasa untuk dijadikan idola. Sama sekali tidak tampak sisi seni dari Sang Mantan Ketua OSIS yang paling terkenal galak itu, jadi mereka memutuskan ikut denganku setelah aku bilang,

"Yang keren dari dia itu, nanti lihat aja sendiri!"

Kami sudah dalam perjalanan ke lapangan bola ketika Mita dan teman-temannya dipanggil Bu Kus. Aku hanya curiga saat praktek tadi cara mereka membedah katak terlalu brutal dan Bu Kus berniat menyelidiki apakah siswi-siswinya yang manis-manis itu memiliki kecenderungan menjadi semacam psikopat. Yah, mungkin Bu Kus belum tahu kalau mereka pernah dengan senang hati mempraktekkan kejahatan mutilasi pada beberapa ekor cacing.

Yakh!

Anehnya, cacing-cacing itu makin dipotong, malah makin banyak yang hidup. Kalau itu terjadi pada manusia, mungkin… AAAH! Sudaaah!!! Mungkin ide dari film Land of The Death itu munculnya dari cacing.
Untuk menuju lapangan sepakbola, adalah wajib untuk melewati ruang ganti di ujung belakang bangunan sekolah. Ruangan ini dipakai khusus untuk atlit-atlit sekolah yang akan berlatih. Hari ini ruang ganti cewek kelihatannya terkunci, sedangkan ruang ganti cowok pintunya sedikit terbuka. Rasanya aku belum bertemu siapapun. Jadi ada kemungkinan mereka semua sudah ada di lapangan. Aku masih berdiri di depan pintu ruang ganti cewek ketika melihat sebuah pemandangan yang merubah segalanya.

Dengan celana pendek berwarna merah dan sandal jepit putih, Kak Liam tiba-tiba muncul dari toilet di seberang ruang ganti. Kami bertemu di depan ruang ganti cewek. Sama sepertiku, dia terhenti di tengah lorong dan shock saat melihatku di situ. Mataku dengan reflek menatap tubuh atasnya yang terbuka dan tanpa terasa aku menahan nafasku.

Six pack! Untuk posturnya yang kelihatan kurus dibalik seragam, dia memiliki tubuh kekar yang sempurna dengan kulit coklat terbakar matahari. Dengan cepat dia melesat masuk ruang ganti dan aku menangkap suara yang mengatakan 'pulang sana!', dan...

Ouch!

TIDAK!!! Aku melihatnya!!! Sebuah bercak bulat berwarna coklat muda di punggungnya. Ternyata orang yang selama ini keren dengan penampilannya, ternyata, ternyata…

Hey! Tenanglah! Itu tadi hanyalah sebuah jamur parasit yang menempel di punggungnya yang atletis dan… Tapi tetap saja itu disebut panu!!!

Aku berbalik seratus delapan puluh derajat dan berjalan pulang secepatnya, seperti perintah kakak kelas yang juga mantan ketua OSIS itu perintahkan. Itu tadi sudah cukup. Kak Liam sudah terhapus dari daftar artisku. Aku rasa aku memerlukan artis yang baru untuk kupuja,

"Dia sudah nggak keren lagi!"

"Apa sih?"

Mita dan yang lain terus merengek dan mengorek keterangan dariku tentang Kak Liam. Tapi, tenang saja Kak! Ini adalah kesetiaan terakhir seorang penggemar sejati. Aku akan menutup mulut atas aib yang, mungkin cuma aku yang tahu, kalau ada sesuatu di balik punggungmu.

T^T

Kamis, 28 April 2011

Fiction: Sepotong Kisah - Part I

Di tepi sebuah hutan di kaki gunung, berdirilah sebuah rumah. Rumah itu tidak begitu besar, tetapi dari luar tampak sangat nyaman. Di dalam rumah itu tinggal seorang wanita tua. Meskipun sudah tua, wanita itu masih sangat mampu mengurus dirinya sendiri. Di seberang hutan di belakang rumahnya, ada sebuah desa dimana putrinya tinggal. Dari putrinyalah wanita itu memiliki seorang cucu. Seorang gadis kecil.

Gadis kecil itu lahir saat tengah malam, saat bulan bulat penuh bersinar terang bahkan di tengah hutan yang gelap. Dan mungkin karena itulah gadis kecil itu memiliki kulit putih hampir pucat yang membuatnya seperti selalu bersinar di antara anak-anak lain. Dan yang membuat gadis kecil itu berbeda adalah, dia sama sekali tidak takut saat malam tiba. Dia seperti menjadi lebih berani saat bulan muncul.

Saat gadis itu merayakan ulang tahunnya yang kelima, neneknya datang dan memberinya hadiah yang terbungkus kertas berwarna coklat dan diikat dengan pita putih. Dengan penasaran gadis kecil itu membuka kadonya. Setelah pita dibuka dan lipatan kertas diuraikan, matanya melebar berbinar-binar. Dengan tangan kecilnya gadis itu mengangkat benda berwarna merah di hadapannya dan memandanginya dengan wajah memerah. Dan setelah memeluknya dan mengibar-ngibarkannya sambil berputar-putar, gadis kecil itu menubruk neneknya dan tersenyum lebar.

“Terima kasih nenek!”

Dan neneknya mengecupnya dan mengucapkan selamat ulang tahun sambil tersenyum. Kemudian, gadis kecil itu mulai kebingungan bagaimana harus memakai benda merah itu. Diapun berlari menghampiri ibunya dan memberikan hadiahnya pada ibunya, dia merengek agar ibunya segera memakaikan benda merah cantik itu padanya. Ibunya mengangkat benda itu dan dengan segera memasangnya di tubuh putrinya. Dia mengikat tali di kedua bahu putrinya dan terakhir menutup kepala putrinya dengan kerudung merah yang menggantung dari jubah merahnya. Setelah terpasang sempurna, gadis itu tersenyum lebar dan berputar-putar, membuat jubah merahnya berkibar. Saat itu, dia sudah sama sekali melupakan hadiah dari ibu dan ayahnya yang belum dibukanya dan masih tergeletak di lantai.

Dan disisa hari itu, gadis kecil itu terus memakai jubah merahnya hingga dia tertidur di sofa empuk di depan perapian, di pangkuan neneknya, berharap agar neneknya tidak pulang ke rumahnya di sisi lain hutan. Jadi, wanita itu tinggal bersama putrinya untuk malam itu.

IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

Di tengah hutan, terdapat sebuah gua. Di dalam gua itu seekor luper* kecil tinggal sendirian. Sudah lama dia tidak bertemu dengan kawanan luper lain dan dia sudah sangat terbiasa hidup sendirian di dalam guanya yang hangat.

Pada suatu siang, saat luper kecil itu sedang menikmati tidur siangnya untuk menghindari cahaya terang matahari, telinganya tiba-tiba bergoyang dan berdiri tegak saat menangkap sebuah suara di dekat mulut guanya. Dia menaikkan wajahnya sedikit untuk mengendus bau yang masuk dari luar gua, kemudian dia mendengkur dan kembali melanjutkan tidur siangnya. Di luar gua, seekor kelinci gemuk dengan bulu coklat melompat melewati mulut gua dan masuk ke dalam lubang di bawah pohon besar tidak jauh dari situ.

Sejauh yang bisa diingat luper kecil itu, dia belum pernah sekalipun melihat luper lain di dalam hutan. Dia sama sekali tidak tahu di mana orang tuanya atau bahkan apakah dia memiliki orang tua. Luper kecil itu sesekali berjalan ke desa dengan jubah berkerudung yang pernah ditemukannya di bebatuan di tepi sungai untuk menyembunyikan telinganya yang berbulu. Kadang dia hanya memandangi orang-orang yang kadang memberinya sepotong roti dengan wajah gemas, kadang dia berjalan-jalan tanpa tujuan mengelilingi desa dan memandangi anak-anak kecil yang berlarian. Kadang anak-anak kecil itu menatapnya lama-lama, kemudian mereka biasanya akan tersenyum lebar dan melambai padanya.

Terakhir kali dia berjalan ke desa, dia bertemu dengan gadis kecil yang memakai jubah merah. Gadis itu menatapnya dengan penasaran, dan saat luper kecil itu balas menatapnya, gadis itu tersenyum lebar dan menghampirinya, memberinya sebuah benda bulat berwarna-warni yang terasa manis. Belum pernah sekalipun luper itu mencicipi benda seperti itu. Dan untuk pertama kali, luper itu membalas senyuman yang diberikan padanya. Setelah itu, gadis kecil itu bersama wanita yang menggandeng tangannya meninggalkan luper itu duduk sendirian sambil menjilati benda bulat manis di tangannya. 

Hari itu terasa berbeda dari hari-hari biasanya, dan luper itu berharap akan bertemu lagi dengan si gadis berkerudung merah itu dan wanita yang bersamanya yang entah mengapa membuatnya merasa nyaman saat wanita itu menepuk kepalanya yang berkerudung dengan ringan.

Setelah matahari tenggelam dan bulan mulai berkuasa di langit, luper itu mengangkat kepalanya. Matanya yang berwarna hitam berkilat di dalam gelapnya gua, dalam sekejap warna hitamnya memudar dan digantikan pupil berwarna keemasan. Diapun berjalan keluar dari dalam gua, mencari sesuatu untuk sarapan malamnya. Pertama, luper itu berjalan ke arah sungai untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Dan setelah puas minum, luper itu mencuci wajahnya dan tangan juga kakinya yang sedikit kotor. Dia terbiasa melakukannya saat akan berjalan ke desa, dan lama-kelamaan, itu menjadi hal yang wajib dilakukannya. Malam itu, dia tidak ingin ke desa, dia ingin berjalan ke tempat lain. Arah sebaliknya.

Setelah beberapa saat berlari (berjalan versinya) luper itu sampai di dekat tepi hutan. Dia berhenti saat mencium aroma wangi yang seperti menguras seluruh isi perutnya, membuatnya lapar dalam sekejap. Dengan penasaran, luper itu mulai mendekati sumber aroma hingga sampai di tepi hutan. Sebuah rumah kecil berwarna coklat berpagar abu-abu dengan halaman depan yang dipenuhi bunga-bungaan tampak di hadapannya. Dari cerobongnya tampak asap tipis berwarna kelabu. Jendela rumahnya tampak bercahaya keemasan, dan luper itu hanya terbengong di pinggir hutan. 

Tanpa sadar kakinya perlahan membuatnya mendekati rumah itu, aroma wangi yang menyerbu hidungnya seperti membuat tubuhnya melayang, seperti ngengat yang otomatis terbang mendekat begitu cahaya tampak di depannya. Dan sebelum luper itu menyadarinya, pintu rumah itu terbuka dan seorang wanita tua berambut keperakan muncul dan menatapnya. Saking terkejutnya, luper itu hanya balik menatap wanita itu, sama sekali lupa menutupi telinganya yang mencuat di kedua sisi kepalanya. Walau begitu, wanita tua itu tersenyum padanya dan memanggilnya masuk. Dengan patuh luper itu berjalan mendekat dan berhenti di depan pintu, menatap wanita tua yang masih saja tersenyum padanya.

“Kau mau berdiri terus di situ atau masuk dan ikut mencicipi kaserol ayamku yang masih hangat di depan perapian?” tawar wanita itu membuat luper kecil itu menatapnya dan dengan gugup masuk ke dalam rumah. Wanita itu kemudian berjalan di depannya dan menyuruhnya duduk di sebuah kursi di depan perapian. Kemudian dia muncul lagi dengan dua buah piring berukuran sedang dan memberikan salah satunya pada luper itu. Dengan mata hitam berbinar, luper itu menatap sepotong kaserol di piringnya. Itu adalah benda paling sedap yang pernah diciumnya selain aroma manis permen yang pernah dicicipinya. Tambah lagi, benda itu mengeluarkan uap yang membuatnya susah payah menahan air liur. 

Luper itu kemudian melirik wanita tua di hadapannya, wanita itu memotong kaserolnya dengan garpu kemudian menusuk potongan kaserolnya dan memakannya. Dan luper itu mengikutinya (itu juga pertama kalinya luper itu memakai garpu dan piring untuk makan). Saat memasukkan kaserol itu ke dalam mulutnya, mata luper itu berbinar-binar dan dia mulai menghabiskan kaserolnya dengan lahap membuat wanita itu tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Setelah menghabiskan sepotong kaserol untuk yang kesekian kali, luper itu sekarang menggenggam cangkir yang mengepul. Cairan di dalamnya berwarna putih kental dan anehnya dia sangat menyukai baunya yang manis sekaligus gurih. Dia merasa pernah mencium aroma itu tetapi sama sekali tidak bisa mengingatnya. Perlahan luper itu mulai meminumnya, tetapi masih juga tidak mengingat kapan dan di mana dia pernah mencicipi rasa yang hampir serupa. Wanita itu masih saja menatapnya dengan diam hingga luper itu menghabiskan seluruh isi cangkirnya dan menggenggam cangkirnya sambil menjilati bibirnya yang ‘berkumis’ putih. Masih ada aroma susu yang tertinggal di cangkir itu, dan dia menyukainya.

“Apa yang kau lakukan di hutan?” tanya wanita itu memecahkan kesunyian. Luper itu hanya menatapnya tiba-tiba dan perlahan telinganya terlihat melemas, menyatu dengan rambut hitamnya yang mencuat. Mata luper itu kembali pada cangkir di tangannya.

“Aku, tinggal di hutan,” luper itu menjawabnya dengan lirih seolah dia baru saja bisa berbicara dengan suara manusia. Tanpa sadar wanita itu membelalak, tetapi dengan cepat dia menyembunyikannya dan tersenyum lalu mulai menanyai luper kecil itu pertanyaan-pertanyaan sederhana dan dijawab dengan singkat. Satu hal yang segera disadari wanita tua itu, anak kecil dengan wajah manis dan rambut hitam mencuat yang sewarna dengan matanya itu adalah anak luper yang entah bagaimana memiliki bentuk lebih menyerupai manusia (kecuali untuk telinganya), dan anak itu sama sekali tidak menyadari kalau dirinya adalah seekor luper (atau makhluk setengah luper karena wanita itu tahu luper tidak bisa berbicara). Dan dari selera makannya, wanita itu langsung bisa menebak kalau luper kecil yang duduk di hadapannya sangat jarang memakan sesuatu yang masih berdarah dan sering berkeliaran di desa. Entah kenapa, luper kecil itu menyukai berada di dekat manusia, mungkin karena instingnya yang membuatnya lebih nyaman berada di dekat sesamanya.

*luper: serigala humanoid. Ukurannya dua kali serigala biasa dan tetap merupakan makhluk karnivora. Bukan manusia serigala.

Jumat, 25 Februari 2011

Review Anime: Drrr!!!

Satu lagi anime keren :3 Satu dari beberapa anime berseri yang berakhir dengan ‘sempurna’. Dari awal sampe akhir tetep seru buat ditonton.
Drrr! bersetting di sebuah wilayah kota Tokyo, Ikebukuro. Banyak yang terlibat dalam kisah ini tapi ceritanya sendiri berputar diantara tiga orang murid SMU. Masaomi Kida, Ryuugamine Mikado, dan Sonohara Anri.


Cerita dimulai saat Mikado datang ke Ikebukuro Tokyo untuk pertama kalinya. Di Ikebukuro, Kida temannya semasa SD sudah menunggunya karena mereka janjian masuk ke SMU yang sama. Pertama kalinya bertemu, Kida mengantar Mikado berkeliling dan memperkenalkannya pada beberapa orang yang mereka temui. Erika Karisawa, Walker Yumasaki, Kyohei Kadota, dan Saburo Togusa anggota Dollars yang selalu bersama. Simon Brezhnev seorang pegawai Russian Sushi, Heiwajima Shizuo si manusia terkuat yang dari kejauhan melemparkan sebuah vending machine. Dan juga legenda di wilayah itu, pengendara motor hitam tak berkepala, Celty Sturluson. Di malam itu juga mereka berdua bertemu dengan Harima Mika, seorang gadis yang hilang ingatan dengan bekas luka melingkar di lehernya.

Masing-masing memiliki kisahnya sendiri. Shizuo yang selalu tampak rapi dengan kostum bartender adalah seorang penagih hutang. Emosinya mudah terbakar dan dia selalu melampiaskannya dengan kekerasan, padahal dia sebenarnya tidak menyukai kekerasan. Setiap emosinya tersulut dia akan memegang apapun didekatnya untuk dilemparkan atau untuk menghajar. Mulai dari palang tanda dilarang berhenti sampai mobil.


Shizuo adalah musuh bebuyutan Orihara Izaya, seorang broker pengumpul informasi. Saat pertama kali bertemu di SMU, Shizuo langsung merasakan kebencian pada Izaya, mungkin dia bisa merasakan jiwa iblis Izaya yang sepertinya menikmati mengadu domba orang-orang di sekitarnya.
Di hari pertama sekolah, Yagiri Seiji muncul terlambat di kelas dan langsung meminta ijin karena kemungkinan tidak akan kembali lagi ke kelas. Dia sedang mencari seseorang. Dia adalah Mika. Belakangan diketahui luka yang melingkar di lehernya dikarenakan gadis itu mengganti kepalanya dengan kepala Celty, Sang Legenda yang selalu mencari kepalanya. Mika yang menyukai Seiji menggantinya karena sejak kecil Seiji sudah mencintai kepala Celty.

Tetapi saat Celty bertemu Mika, dia sadar, itu bukan kepalanya dan malah menemukan bahwa Shinra, dokter gelap yang tinggal bersamanya ternyata selama ini mengetahui keberadaan kepalanya. Shinra sendiri diam karena tidak ingin Celty meninggalkannya. Dan sebuah insiden membuat seluruh kota melihat sendiri bahwa Celty bukan manusia. Bahwa dia adalah hantu tanpa kepala adalah benar.


Insiden itu terjadi di tengah kota Ikebukuro. Saat Dollars secara massal berkumpul untuk pertama kalinya. Di situ Izaya mendapatkan sebuah informasi baru bahwa selama ini pemimpin Dollars adalah Mikado. Seorang anak SMU biasa yang tampak polos dan lemah.


Setelah itu rumor mulai beredar. Geng Yellow Scarves yang memakai atribut berwarna kuning mulai banyak bermunculan di kota seolah mencoba menyaingi Dollars dan juga muncullah Kirisaki yang menyerang orang-orang di kota. Saat keadaan mulai kacau, nama Saika muncul dalam chat room Dollars dan mulai berbicara ngelantur membuat anggota Dollars mulai khawatir. Nama itu sendiri mengingatkan Shinra bahwa itu adalah nama sebuah pedang yang memiliki semacam kekuatan untuk mempengaruhi pemiliknya. Karena itulah Shinra dan Celty yakin bahwa Saika adalah Kirisaki yang berkeliaran di kota. Bersama Shizuo yang marah karena Kirisaki pernah mencoba membunuh Celty, mereka mencari Kirisaki dan menemukan Anri yang sedang diserang.

Anri selamat, tetapi dia dikejar oleh Nakajima, Si Kirisaki sampai ke rumahnya. Saat itu Anri sadar ternyata selama ini Nakajima mengejarnya karena dia merasa cemburu pada Anri karena Takashi guru Anri menyukai Anri. Walaupun Anri menjelaskan pada Nakajima bahwa dia tidak menyukai Takashi, Nakajima tetap mencoba membunuhnya hingga Anri akhirnya mengeluarkan pedang dari tangannya. Saika, Anrilah Kirisaki yang asli.

 Saat Nakajima menyerang orang lain, mereka tunduk pada perintahnya. Dan karena itu, sebuah kekacauan terjadi di kota menyebabkan banyak orang terluka, termasuk anggota geng Yellow Scarves.
Saat itulah pemimpin Yellow Scarves, Kida yang selama ini mundur, kembali lagi. Kida kembali karena Anri menjadi korban tanpa mengetahui bahwa Anrilah selama ini ‘Ibu’ dari para Kirisaki yang mengacau. Kida mulai mencari tahu dan menemukan teori yang mengatakan bahwa Kirisaki dan Celty adalah anggota Dollars. Karena itu dia mencari tahu siapa pemimpin Dollars, karena belakangan ini seluruh kota sepertinya hampir menjadi medan perang antara Dollars dan Yellow Scarves.

Izaya memberitahu Kida bahwa Mikado, sahabat Kidalah pemimpin Dollars. Kida mulai menghindari Mikado, begitu juga Anri yang khawatir kalau Mikado dan Kida sampai mengetahui siapa dirinya. Walau begitu, Mikado sendiri malah tenggelam dalam masalahnya sendiri sehingga tidak menyadari perubahan yang terjadi pada kedua sahabatnya. Mikado membubarkan Dollars setelah insiden-insiden yang mencelakakan anggota Dollars dan keinginan banyak anggotanya yang memilih keluar. Saat itu Celty yang juga anggota Dollars memutuskan untuk menemui Mikado dan menjelaskan tentang Anri dan Kida pada Mikado.

Kida sendiri mulai bingung dengan keadaannya dan berpikir untuk meninggalkan gengnya lagi, saat itu Horada, anak buah Kida yang selalu bertindak sesukanya memberitahu Kida kalau dia mengambil alih Yellow Scarves, dia juga mengetahui bahwa Mikado adalah pemimpin Dollars. Jadi Horada mengancam Kida kalau mereka akan mengejar Mikado dan juga dirinya.


Bukannya lari, Kida justru mendatangi markas. Di sana Horada sudah menunggu dengan seluruh anggota yang sangat asing bagi Kida. Kida mulai paham kalau gengnya sudah disusupi mantan anggota Blue Squares, musuh Yellow Scarves. Dan Horada adalah orang yang mematahkan kaki Saki, mantan pacar Kida. Merasa dirinya sudah ditipu dan dihianati habis-habisan, Kida nekat menyerang Horada.


Saat itu tiba-tiba Horada yang mencoba menembak Kida dihentikan oleh salah seorang anak buahnya yang memberitahunya kalau Ibu tidak setuju dan dia sebentar lagi datang. Horada baru paham dengan kalimat ganjil itu saat pintu gudang tempat mereka berkumpul terbelah dan menampilkan Anri. Beberapa orang yang mencoba menyerang Anri mundur saat Celty muncul dan langsung menerobos masuk ke tengan kerumunan bersama Mikado. Sebelum mereka menyerang tiga orang yang baru saja menerobos, sebuah teriakan memerintahkan kerumunan untuk tidak mengikuti perintah Horada.

Rupanya di tengah kerumunan itu sisa-sisa anggota Dollars mulai menyerang di bawah perintah Kadota yang justru mantan musuh Kida, anggota Blue Squares. Kida dilarikan ke rumah sakit tempat Saki dirawat dan mengetahui dari Saki bahwa Izaya juga bertanggung jawab atas kekacauan itu. Anri mengejar Izaya tetapi gagal menghajarnya.


Di tengah jalan saat Izaya berniat mencari masalah dengan Shizuo, dia justru bertemu Simon yang langsung memukulnya.

Shizuo sendiri memburu Horada bersama Celty. Tetapi akhirnya mereka membiarkan Horada dkk dengan mobilnya yang hancur karena ulah Shizuo kabur. Saat itu muncullah Kinnosuke dan pasukannya (tim polantas yang pernah memburu Celty dan menurut Celty sangat menakutkan) mengejar Horada.


Akhirnya Kida meninggalkan Ikebukuro bersama Saki, tetapi dia bergabung dengan Dollars. Dan semua kembali seperti semula.

Seru. Alur ceritanya nggak terlalu lambat ato cepat buat kita kenal setiap karakter yang lumayan banyak (walopun nggak sebanyak karakter seri Gundam ^^a). Yang menarik lagi cerita kalau yang mengendalikan massa di kota adalah anak-anak. Kelemahannya mungkin karena kisahnya lumayan gampang ditebak dan di beberapa bagian diulang-ulang. Penjelasan yang panjang lebar juga kadang bikin bingung.
Tapi memang ini termasuk salah satu anime yang patut ditonton :D

Jumat, 21 Januari 2011

Battle Royale


Setelah beberapa taun lalu, akirnya kmaren daku nonton Battle Royale lagi. Tapi ternyata masih serem-serem aja. Padahal kupikir dulu nonton tuh film ngerasa kripi banget gara-gara waktu itu diriku ini masih seorang anak manis yang polos (??!!). 
Skarang nyatanya masih sama aja kripinya, padahal diriku skarang udah kayak sikopat yang nggak segan-segan ngeracun mati semut-semut di dapur en dengan brutal nembakin kucing yang masuk kdalem rumah.

Waktu smu sempet ngeri juga sih. Tapi diriku ini adalah murid ipa yang ikutan ngerayain valentine bersama wali kelas dan juga ilustrator majalah sekolah yang berharga. Jadi kemungkinan besar, aku nggak bakalan jadi korban dijadiin peserta Battle Royale……Muhahahaha…..XD

Kepercayaan diriku nambah ….40%

Energi nambah…….30%

Skill nambah …….50%

Bonus nyawa nambah …….80%
(ah… kok jadi game?!)

Akhirnya sampai lulus smu en kuliah, paranoia Battle Royale nggak lagi kedengeran. Baru-baru ini muncul lagi setelah nonton Battle Royale lagi. Dan paranoia barunya adalah….

Bulan ini untuk memperingati HARMETDUN (hari meteo sedunia), akan diadakan jalan-jalan. Kami harus mengintrospeksi diri. Kami harus berlaku menjadi pegawe yang baik dan benar, sebelum pihak superior menyeleksi pegawe BMG wilayah Sulawesi Utara sebagai kumpulan pegawe yang patut dimusnahkan dalam survival game selama 3 hari 3 malam di sbuah pulau di deket perbatasan Pilipina.

Hiiiih…… kalo akhirnya eyke juga jadi korban, eyke cuma berharap akan mendapatkan sebuah radar jamming portable yang bisa matiin detektorku. Trus eyke bakalan pura-pura tewas pa hibernasi slama 3 hari 3 malam.

Rencana yang brilian!!!

Kamis, 20 Januari 2011

O Yeeeeeeh........


Nggak pernah ada istilah telat buat selamatan.
Dan nggak pernah ada istilah basi buat pestaaaa!!!!

Karena itulah ucapan slamat taon baru biasanya masih heboh sampai akhir Februari! (Ya iyalah! itu kan biasanya masih panas-panasnya taon baru imlek!!!). Ah! Intinya! Knapa harus pake batesan klo mau hepi-hepi.. (maksudnya??).

Intinya!
Slamet Taon Barwuuuuu...^3^

Sabtu, 09 Oktober 2010

Jepretan Maut

Profesional artinya mampu mengerjakan sesuatu sesuai bidangnya dengan sempurna walau minim fasilitas dan halangan mengantri. Termasuk menjadi pembunuh profesional.

Seorang pembunuh profesional dituntut mampu melakukan pekerjaannya dengan sempurna. Kegagalan sama dengan kematian diri sendiri. Dan kesalahan sekecil apapun dapat mencoreng nama baik. Mereka dituntut dapat bertahan dalam segala macam kondisi dengan pertaruhan nyawa dan dituntut juga dapat menggunakan apapun disekelilingnya sebagai senjata. Termasuk benda-benda yang tidak berbahaya sekalipun.

Aku ingat saat pertama kali diajarkan untuk memakai benda itu sebagai senjata. Karet gelang. Benda lentur yang biasanya dipakai untuk mengikat bungkusan makanan itu mempunyai banyak fungsi. Dan aku hanya ber’wah!’ saat pertama kali diajarkan memakai benda itu untuk membunuh. Bahkan aku yang saat itu belum mencapai umur sepuluh tahun sudah dengan sukses bisa melakukan sebuah pembunuhan dengan menggunakan karet gelang.

Benda sederhana yang ternyata bisa mengakibatkan efek yang bisa dilakukan oleh benda lain yang seribu... bukan! Sejuta kali lipat lebih besar darinya. Praktis dan tidak akan ada yang curiga kalau kita membawa-bawa benda itu di kantong. Dan benda itu adalah benda nomor 1 paling favorit dalam daftarku kalau aku ingin melakukan aksi pembunuhan.

Jadi, jangan kalian berani mendekat kalau aku sedang bosan atau kesal. Karena mataku ini akan terus mengikuti gerakanmu dan saat kau lengah, aku akan menyerangmu dengan sebuah jepretan yang kujamin tidak akan membuatku kesakitan. Mungkin kau hanya merasa seperti terhempas sebentar sebelum kau tidak sadar untuk selamanya.

Lebih baik kalian manfaatkan saja waktu hidup kalian yang cuma sebulan itu di tempat lain selain di sekitarku karena aku tidak akan ragu untuk membunuh kalian kalau kalian berani hinggap di dekat-dekatku lalat!


Kamis, 05 Agustus 2010

Treadstone's: The Last Stones

I
The Red Riding Hood Princess
Seharusnya ia menikmati tidur bergelung di atas ranjang empuk hotel yang disewanya dua hari lalu, bermalas-malasan karena jetlag bisa jadi alasan yang cukup wajar setelah penerbangan lintas benuanya. Tetapi sekarang, gadis berambut pirang panjang itu tengah berdiri di bawah shower membiarkan air dingin mengguyurnya.
Blus biru muda yang masih dipakainya tampak berwarna gelap dengan warna merah yang mulai luntur mengalir ke dalam lubang pembuangan. Gadis itu hanya menatap air berwarna merah yang tidak hentinya mengalir di lantai berwarna putih hingga dinginnya air mulai membuatnya menggigil. Ia menggapai gagang di hadapannya dan air hangat perlahan berganti mengguyurnya.
Nicolette Schmidt.
Seorang gadis berambut pirang panjang yang baru berumur dua puluh dua tahun sekitar tiga jam yang lalu. Tidak ada perayaan. Tidak ada makan malam atau sekedar secangkir teh sebagai ucapan selamat ulang tahun. Tidak akan ada. Tidak ada keluarga atau teman yang akan memberikannya ucapan selamat. Tidak akan ada karena mereka tidak ada.
Nicol mengikat kimono hotelnya yang tebal rapat-rapat karena tubuhnya mulai kedinginan lagi setelah guyuran air hangat dari shower. Matanya menatap laptopnya yang berkedip di atas meja di sisi tempat tidurnya dan ia segera mengeceknya untuk menemukan sebuah pesan baru.
INCOMING TASK...
Nicol mengetikkan beberapa huruf dan layar di hadapannya perlahan memunculkan sebuah foto.
“David?” alis Nicol bertaut tidak mengerti menatap foto pria berambut gelap dengan belahan pinggir rapi yang tampak di monitornya.
Klik!
Sebuah pesan masuk lagi membuatnya mengerutkan alisnya.
A. Renberg: Temui aku di Cafe Regine sekarang
Tanpa membuang waktu Nicol segera berpakaian dan meninggalkan kamarnya.
Cafe Regine adalah sebuah cafe kecil di sudut jalan. Bangunannya hanya satu tingkat dan dinding yang menghadap ke jalanan hampir seluruhnya terbuat dari kaca. Pagi itu, meja dan kursi yang biasanya sudah tertata di pelatarannya tampak dilipat merapat ke dinding. Dalam cuaca seperti itu tidak ada yang ingin menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di luar ruangan.
Nicol berjalan sambil menjejalkan tangannya ke dalam saku mantelnya. Nafasnya mengepul di depannya dan Nicol mencoba menaikkan bahunya agar krah mantelnya yang tinggi bisa menutupi mulutnya. Orang-orang sudah tampak berlalu-lalang dengan sibuk, mereka tampak sudah terbiasa dengan gulungan kabut yang cukup tebal menutupi kota dan salju yang turun dengan enggan.
Sekeping salju mendarat di ujung hidung Nicol yang memerah dan ia meniupnya jatuh di seberang Cafe Regine. Di hadapannya, sebuah sedan hitam berhenti dan Nicol dengan santai berjalan ke arahnya lalu menyandarkan tubuhnya di sisi pintu belakangnya. Jendela mobil itu perlahan terbuka dan tampak seorang pria dengan setelan gelap mengulurkan amplop coklat besar pada Nicol. Dengan enggan Nicol menerimanya dan mengintipnya.
“Kenapa?”

“Kau tidak perlu menanyakan alasannya, Red!” Nicol mengerling Renberg di dalam mobil kemudian kembali menutup amplopnya dan memasukannya kembali melalui jendela yang setengah terbuka.
“Kalau begitu aku menolaknya. Dia rekanku,”
“Rekanmu baru saja gagal. Tidak hanya gagal, dia ketahuan dan sekarang targetnya mengejar kita,” Renberg menolak membalas tatapan terkejut Nicol. Wajar Nicol bereaksi seperti itu, David adalah salah satu yang terbaik, mustahil dia gagal bahkan sampai membahayakan agensi.
“Kalau begitu biar kuurus buruannya,”
“Kau tidak bisa menutupi kesalahannya terus-menerus Red. Semua yang kau butuhkan ada di situ. Tugasmu sudah ditetapkan. Keretamu berangkat satu jam lagi, beri laporan dalam dua belas jam!” nada bicara Renberg menunjukkan ketetapan finalnya dan Nicol tidak bisa mengelak lagi. Iapun mengepit amplopnya dan meninggalkan mobil itu kembali ke hotelnya.
“Apa-apaan mereka mengirimku? Menghabisi David? Yang benar saja. Kenapa tidak terus terang saja mereka ingin menghabisiku?”
Nicol menumpahkan isi amplop ke atas meja. Sebuah buku kecil berwarna hijau dan selembar tiket terjatuh, lalu segepok uang mengikutinya dengan suara berat.
“Rubel?” alis Nicol mengkerut. Dia tidak pernah bermasalah dengan uang, tetapi ini adalah salah satu mata uang yang paling dibencinya.
"Ugh.. Sejak kapan dia menyukai hawa dingin?” Nicol mulai mengeluh lagi. Ia membuka buku hijau itu dan menemukan wajahnya terpampang dengan nama Katya Gornostayeva. Nicol mengecek tiketnya dan mengerling arlojinya. Masih ada satu jam sebelum keretanya berangkat dan dia harus segera membereskan barang-barangnya.

Terkadang Nicol merasa bosan dengan pekerjaannya. Panggilan yang tiba-tiba, tugas tiba-tiba, keberangkatan yang tiba-tiba, pembatalan tiba-tiba. Semuanya selalu mendadak dan terburu-buru tetapi tidak mengijinkan kesalahan sekecil apapun. Bodoh sekali dulu saat dia menolak untuk bertugas di bagian logistik. Saat itu ia memang masih terlalu bersemangat dan terlalu naif, tetapi sekarang, semua pekerjaannya terasa sangat melelahkan. Ia bosan terus berpindah tempat dan terus mengganti identitas. Ia ingin bersantai sedikit di balik meja.
Dan semoga saja ini adalah misi terakhirnya sebelum kantor pusat memberikan surat resmi yang memindahkannya dari petugas lapangan menjadi petugas logistik di Paris, kota kelahirannya. 

++++++++++

Sebenernya Last Stones adalah kisah standar tentang seorang cewek yang kebangsaannya nggak jelas karena dia seperti gipsy yang berpindah-pindah dari satu negara ke negara lainnya. Nicol, seorang cewek jenius berbakat yang bosan pada pekerjaan lapangannya. Dia dan David berkenalan saat masih sekolah dan menjadi rekan selama setahun mereka bekerja bersama. 
Dua tahun kemudian Nicol dan David bertemu dalam kondisi yang berubah total. David yang kehilangan ingatan setelah mengalami kecelakaan menganggap Nicol yang mengawasinya sebagai musuh bahkan beberapa kali David hampir saja membunuh Nicol. Setelah itu David kembali menghilang dan Nicol memutuskan untuk pindah bekerja ke negeri lain. Niatnya untuk yang terakhir kalinya karena dia ingin berada sejauh mungkin dari David yang dianggapnya sudah mati di suatu tempat di dunia.
Tetapi David kembali muncul mengejar atasan Nicol dan melibatkan Nicol. Kali ini Nicol hanya bisa pasrah dan berniat membantu David walau David sempat mencurigainya. Dan walaupun ingatan David akan Nicol tidak pernah kembali, tetapi perasaan melindungi David tumbuh untuk menjaga Nicol, karena dengan berada bersamanya Nicol bisa jadi ikut diburu seperti dirinya. Mereka berdua tahu kalau selamanya mereka akan terus diburu, jadi David ‘membunuh’ mereka berdua lalu bersembunyi dan berharap mereka tidak akan pernah ditemukan.

Endingnya nggantung sih, terutama buat karakter David karena kita nggak pernah tahu apa ingatannya sudah kembali atau belum di akhir cerita. Sedangkan Nicol sepertinya benar-benar hidup santai di balik meja menjadi seorang dosen sebuah universitas di Asia. Ketegangan kisah diantara merekalah yang menghibur en lumayan buat dibaca ulang walaupun buat berhenti ditengah-tengah cerita adalah sebuah tantangan berat :D










Rabu, 28 Juli 2010

Review Movie: Green Zone

Pertama kali denger tentang film ini, yg bikin aku langsung kepengen nonton adalah Matt Damon en Paul Greengrass!!! Iyeeey!
Hehehe... Serasa flashbacknya Bourne sebelum dia dicuci otak :D


Film ini tergolong action standar yang make bekgron perang Irak. Yah, tipikal film amriklah. Jagoannya amrik dan para penjahatnya orang irak, x-pasukannya Saddam. Tapi yang menarik dari film ini adalah kisah dibalik pecahnya perang yang ternyata disebabkan oleh orang amrik sendiri.

Cerita dimulai dari pasukan Mobile Exploitation Team-D (MET-D) di bawah komandonya Miller (or Bourne to me ^^) yang bertugas mencari senjata pemusnah masal (WMD) di Baghdad. Selama tiga kali pencarian, nggak satupun info dari intel ke pasukan MET munculin hasil. Itu bikin Miller mulai mempertanyaken intel macem apa sebenarnya yang ngeluarin berita boong?
Di tengah usaha pencarian WMD yang ke-4, muncul Freddy, seorang warga lokal yang tiba-tiba mendatangi pasukan MET-D dan memberikan info tentang anggota Baathis, sisa-sisa pasukan Saddam. Walaupun Miller dan pasukannya tidak begitu yakin dengan informasi Freddy, mereka mengikuti petunjuk Freddy juga dan akhirnya menemukan Al Rawi, Jenderal pasukan Saddam yang sedang menggelar pertemuan.


Saat itu Freddy sama sekali tidak tahu kalau dirinya menyebabkan pasukan Miller menggrebek pertemuan Al Rawi, begitu dia mengetahuinya Freddy tampak marah pada Hamza, si pemilik rumah yang dipakai untuk pertemuan Al Rawi dkk. Kemudian Miller membawa hasil tangkapannya yang sialnya malah diambil alih oleh pasukan khusus. Saat itu terjadi perkelahian antara pasukan MET-D dan pasukan khusus untuk memperebutkan buku catatan milik Hamza. Tetapi Miller sudah memberikan buku itu pada Freddy yang kemudian kabur. Saat itu Freddy sedang panik karena dia melihat pasukan khusus menangkapi orang-orang Irak bahkan memukul Miller yang notabene tentara amrik berpangkat plettu.
Miller menyangka Freddy melarikan diri dan mengejarnya. Saat itu Freddy memberitahukan niatnya mengapa dia mau melakukan semua itu. Semua karena dia hanya ingin menolong negaranya sendiri. Seberapapun besarnya Miller dkk ingin melakukan yang terbaik, Freddy akan melakukannya dengan lebih baik lagi karena yang sedang diperjuangkan adalah negerinya sendiri (4 thumbs up bwat Freddy!!!).

Setelah itu, Miller memecah pasukannya menjadi dua karena perbedaan pendapat dengan salah satu sersannya dan diapun membawa pasukannya mengejar Al Rawi dengan dukungan CIA. CIA sendiri rupanya berselisih paham dengan pihak militer. CIA ingin memberikan penawaran bagi Al Rawi dkk sedangkan militer ingin menghabisi Al Rawi karena ternyata selama ini Al Rawi adalah intel yang dipertanyakan oleh Miller. Sedangkan Al Rawi, ternyata dia hanyalah korban yang merasa dibohongi oleh salah satu petinggi militer amerika.
Puncaknya, tanpa mengetahui sebuah perubahan besar yang terjadi di negara itu, Miller mengejar Al Rawi untuk memberinya penawaran tetapi Al Rawi tetap berniat memulai perang. Dan pengejaran Al Rawi-Miller-pasukan khusus pun terjadi hingga akhirnya Miller berhasil memojokkan Al Rawi dan Al Rawi menyetujui ikut dengan Miller. Saat Miller sudah mulai lega, Freddy muncul dan menembak Al Rawi. Sebelum Miller melampiaskan kemarahannya pada Freddy, Freddy mengatakan kalau bukan amrik yang berhak memutuskan masa depan negrinya, tetapi warga negara itu sendirilah yang berhak melakukannya. Karena sejak awal Freddy sudah menentang keputusan Miller, Miller akhirnya melepaskan Freddy. Dan setelah kasus pengejaran Al Rawi itu selesai, Miller memutuskan untuk menyebarkan kebenaran kasus di balik kebohongan intel itu sendiri karena tampaknya si pemicu masalah menganggapnya ‘yang sudah terjadi ya sudahlah, lupakan!’. 

Yang kusuka dari Paul Greengrass karena filmnya terasa padat. Walaupun kisah yang diangkatnya lumayan ringan, tapi kalau menyingkir 5 menit saja dari film, kita bisa ketinggalan cerita. Contohnya adalah adegan pengambil alihan tawanan Miller oleh pasukan khusus lalu perkelahian perebutan buku catatan Hamza (termasuk penggeledahan Miller yang menyesakkan...TT^TT) dan pengejaran Freddy, semua itu hanya berlangsung kurang lebih selama 5 menit. Dan itu hanya salah satu adegan penting-beruntun bertempo cepat yang jadi ciri khas film-film nonstop action-nya Paul Greengrass.

Satu lagi yang menarik dari film Paul Greengrass adalah aktor yang dipilihnya. Di film ini seluruh anggota MET-D dan pasukan khusus (kecuali ketua timnya) yang menjadi tokoh utama justru bukan aktor, tetapi para veteran tentara dan tentara yang sedang bebas tugas. Dan sisa pemain lainnya adalah penduduk lokal yang ikut memeriahkan suasana sebagai figuran.



Rabu, 14 Juli 2010

The One

Let me tell you what so borrring with 'another world' type of story.
Pertama: selalu muncul karakter culun, penyendiri (yaah.. kadang berteman dengan 1 ato 2 orang), tertindas, kemampuan defense diri lemah dan biasanya selalu nampak aneh. Lalu dia bakalan terlempar ke dunia entah berantah trus tiba-tiba jadi kuat bahkan jadi orang yang nyelamatin dunia itu. Oh, so boring!

Why wont people try different formula? Orang dengan tipe yang sama, culun, penyendiri, lemah lalu terlempar ke dunia lain then jadi seorang musuh utama yang kuat? Izn't that more chalenging?
Yah, tapi itu semua kayaknya musti berharap sangat buanyak buat nyari  author yang mau bikin formula yang amat beda kek gitu. Soalnya orang lemah dan jadi kuat plus tiba-tiba jadi harapan smua orang udah jadi semacem plot emas. Soalnya semua orang pasti bakalan puas sama apa yang bakalan kejadian ma si tokoh utama.

Still, it's boring.

Jumat, 02 Juli 2010

Valentine's Day

Weeew...
Valentines Day yang kumaksud adalah film keluaran 2010, film bergenre roman (bukan Valentine's Day yang genrenya horor ala Friday The 13th). Satu dari beberapa film genre roman yang kusuka. Dan ini adalah DVD film roman pertama yang kupunya hahahaha.... (New Moon gak diitung roman karena mengandung horor n action).
Film ini bercerita tentang baaaanyak sekali orang pada satu hari, Valentine's Day. Mulai dari Reed yang bertunangan di pagi hari tetapi siangnya diputusin. Lalu Felicia yang dihadiahi boneka beruang putih raksasa dan dibawanya terus sepanjang hari. Lalu Kara yang menggelar pesta 'I Hate Valentine's Day', Edison yang berjuang ngirim bunga untuk bu gurunya, Sean yang ganteng, cakep, cool, UWAH!, dsb dsb tetapi mengaku gay dalam konvrensi pers supaya cowoknya balik, Kate yang terbang sejauh 14 jam demi valentine day sehari sama-sama anaknya daaan... masih banyak lagi termasuk favoritku...

Pasangan Edgar dan Estelle. Pasangan yang sudah tua tapi tetep mesra :). Mereka bertengkar waktu Estelle ngaku pernah selingkuh, tetapi berakhir dengan berbaikan di tengah kuburan pada malam hari. Simple, tetapi adegan mereka berbaikan adalah adegan terseru yang bikin terharu karena mereka berbaikan di tengah layar tancep yang ditonton banyak sekali orang dan Estelle muncul dengan baju merah melambai-lambai. Akhirnya para penonton layar tancep berhenti nonton film dan malah nonton Edgar dan Estelle yang berbaikan hahahaha... Epic!

Tapi walau begitu, sebenarnya porsi cerita terbanyak adalah kisah Reed dan Julia. Reed adalah pemilik toko bunga yang melamar Morley di pagi hari. Saat lamarannya diterima, tidak satupun percaya dengannya, termasuk Julia sahabatnya yang mengaku iri karena sahabatnya itu akan segera menikah. Julia sendiri di hari Valentine itu ditinggal pergi oleh Harrison seorang dokter yang harus bekerja keluar kota. Jadi Reed membujuk Julia agar menemui Harrison. "It's Valentine's Day! You don't think, you do!" begitu kata Reed yang kemudian malah disesali Reed.

Saat itu di toko Reed muncullah Harrison yang memesan dua buket bunga untuk dua orang wanita dan Reed akhirnya mengetahui kalau laki-laki itu adalah orang yang selalu dibangga-banggakan Julia. Dan Harrison, sudah menikah. Lalu berjuanglah Reed memberitahu Julia tentang Harrison. Tetapi setiap kali dia berhadapan dengan Julia, Reed tidak tega untuk mengatakannya hingga siang hari Reed membawakan bunga untuk Morley dan mendapati Morley sudah mengepak barang-barangnya untuk keluar dari rumah Reed dan mengembalikan cincin pemberian Reed.

Akhirnya Reed berhasil mengejar Julia di bandara dan memberitahukan tentang Harrison. Reed pikir, Julia tidak mempercayainya dan tetap pergi, tetapi Julia membatalkan kepergiannya dan mencari Harrison. Setelah bertemu Harrison dan istrinya di sebuah restoran milik salah satu siswanya, Julia mendatangi pesta Kara yang berjudul 'I Hate Valentine's Day' yang ceritanya dirayakan untuk orang-orang yang sedang patah hati saat Valentine ^^. Tadinya mereka hanya berdua, tetapi lama-kelamaan peserta pesta itu terus bertambah.

Di tengah pesta salah satu murid Julia, Edison datang dan memberi Julia bunga. Dari Edison itulah Julia menyadari kalau dia hanya bisa bersama Reed.
Yah, akhir cerita Reed juga tidak bisa apa-apa tanpa Julia dan merekapun menghabiskan sisa hari valentine yang tinggal 30 menit bersama.

Serunya, cerita-cerita itu bersambung satu dengan yang lain seperti film Crash (yang aku juga punya, eniwei itu film drama <= nggak penting!).

Rabu, 23 Juni 2010

Driven

Ini adalah salah satu film favoritku. Film lama yang make Sylvester Stallone sebage pengheboh hehe.. 
Yah, kebanyakan bagian yang ada Om Syl-nya ku-skip sih karena aku lebih suka nonton aksi rookies-nya :D

Film ini bercerita tentang persaingan Jimmy Bly dan Beau Brandenburg dalam kejuaraan F1. Beau termasuk salah satu racer muda top sedangkan Jimmy adalah rookie berbakat yang baru muncul dan langsung menjadi bintang. Kisah dimulai di pertengahan musim saat Jimmy kehilangan konsentrasinya karena merasa tertekan oleh kepopulerannya dan desakan kakaknya. Karena itu timnya memutuskan untuk memanggil lagi Joe Tanto seorang pembalap senior untuk menjadi backup sekaligus mentor Jimmy.


Awalnya Joe keberatan karena posisinya akan menyingkirkan Memo rekan setim Jimmy, tetapi Memo yang menghormatinya meyakinkannya agar menerima tawaran itu.

Beau sendiri sejak kemunculan Jimmy juga mulai mengalami tekanan hingga membuatnya memutuskan hubungannya dengan Sophia yang kemudian menjadi dekat dengan Jimmy. Hal itu justru membuat Beau semakin sulit berkonsentrasi dengan pekerjaannya.

Puncak perseteruan Jimmy-Beau adalah saat Beau menerima saran Joe untuk meminta maaf pada Sophia di tengah sebuah pesta yang menimbulkan perkelahian antara Beau dan Jimmy. Jimmy pergi dari pesta dengan membawa kabur sebuah mobil balap ke tengah kota dan Joe yang merasa bertanggung jawab ikut mengejarnya.


Sejak kejadian itu Jimmy mulai benar-benar mendengarkan Joe dan setelah Jimmy kembali bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya, Memo kembali mengambil posisi Joe. Tetapi itu hanya sebentar karena Memo mengalami sebuah kecelakaan yang membuatnya terlempar jauh dari trek, sebuah area yang cukup terpencil dan hanya bisa dicapai dengan segera oleh peserta race. Dan Memo tidak akan bisa diselamatkan kalau saja Jimmy dan Beau yang ada di posisi terdepan tidak memutuskan untuk keluar dari race dan mencoba menolong Memo.


Kejadian itu membuat konflik yang memanas diantara Jimmy dan Beau mulai mereda. Ditambah lagi setelah Beau dan Sophia menghajar kakak Jimmy membuat Jimmy merasa kalau ada orang lain yang mengerti posisinya dan akhirnya ada juga orang yang bisa menyadarkan kakaknya. Singkatnya, walaupun sempat mengalami cedera tetapi Jimmy akhirnya berhasil memenangkan kejuaraan musim itu.


Yeah... Ceritanya simple aja. Tapi yang bikin film ini menarik adalah racenya dan kehidupan dibalik para racer yang nggak melulu tentang balap dan pesta (karena kenyataannya mereka juga selebritis), dan tentunya sedikit ‘politik’ dalam dunia balap. Yah.. Sedikit tambahan pengetahuanlah buat para pecinta F1 :D

Rabu, 16 Juni 2010

The Immortals

Dulu kami mempercayai makhluk itu abadi. Walau sebenarnya mereka tidak memiliki daya tahan tubuh yang kuat, tetapi ikatan persaudaraan mereka tidak ada tandingannya. Saat menemukan mangsa, dengan cepat kawanannya akan segera berkerumun meramaikan suasana. Dari dulu kalau melihat mereka tengah ‘berpesta’, reaksi awalku hanya merinding. Mengerikan sekali kecepatan mereka mengenali bau mangsanya.

Mereka banyak dan abadi. Walaupun kau membunuhnya, mereka akan hidup kembali, membawa pasukan hampir dua kali lipat, atau sebenarnya nyawa mereka saat kita membunuhnyalah yang menjelma menjadi tubuh-tubuh yang nyata?


Ummm....
Bukan makhluk itu sih...^^a

Hari ini aku mengalami sebuah pertempuran melawan mereka. Di medan kekuasaanku tiba-tiba mereka berkerumun. Entah dari mana mereka mencium apa yang ada di tempat sampahku. Lalu aku teringat...

“Oh, no! Remahan biskuit di bekas bungkus biskuit kelapaku!”

Aku menemukan pemicunya. Mereka sudah berbaris rapi merayapi tempat sampahku dan berpesta dengan remahan biskuit. Aku menatap mereka dengan merinding dan amarahku memuncak.

“TAK AKAN KUBIARKAN KALIAN MENGINVASI KAMARKU!!!”

Dengan penuh amarah aku mencari-cari senjata yang selama ini menjadi salah satu senjata terampuhku untuk melawan mereka. Aku menemukannya, tetapi kosong! Tetapi sungguh beruntung, persediaan amunisi masih terisi setengah penuh. Dan aku kembali ke kamar dengan senjata terisi penuh. Dengan penuh dendam aku menyemprotkan baygon ke keramaian semut-semut di tempat sampahku.

“Heahahahaha...!!! Go to hell you little creatures!!!”

“NOOO!!! We don’t wanna go to heeeeell!!! Why do we have to go there? We didn’t do anything wrong!!!”

“SHUT UP?! You’re invading my sacred place!”

“This place is huge and you own this huuuuge area for yourself? You’re so greedy!”

“HOW DARE YOUUUU!!! DIE! DIE! DIE! DIEEEEEE!!!!”

Aku membungkam mereka dan perlahan merekapun satu-persatu tewas berjatuhan. Huh! Rasakan itu!


Lalu hal yang membuatku berpikir mereka adalah makhluk abadi adalah seberapapun mereka dimusnahkan, mereka tetap akan muncul lagi dengan jumlah yang (sepertinya) sama. Bahkan mayat-mayat pasca pembantaianpun musnah tak berbekas. Apakah pasukan itu hidup kembali untuk menuntut balas?

Selasa, 25 Mei 2010

I’m addicted to you, don’t you know that you toxic

Tuan, nyonya atau suku atau siapapun kalian, diriku ini ingin sekali mengucapkan amat sangat buanyak sekali terima kasih untuk kalian karena telah menciptakan ‘Martabak’. Dunia harus mencatat kalian dalam sejarah dan memberikan hari untuk memperingati betapa besarnya jasa kalian, karena martabak adalah sebuah pencapaian luar biasa dalam peradaban manusia.

Diriku bahkan mensejajarkan martabak dengan lasagna yang legendaris dan dicintai seluruh umat manusia di muka bumi. Mungkin suatu saat nanti, martabak juga akan memiliki fan base-nya sendiri di muka bumi ini. Ya, mungkin diriku agak berlebihan. Tapi kalau diriku tinggal di italy, pasti diriku akan merindukan martabak seperti diriku di indonesia raya kesulitan mencari-cari lasagna.

Jadi, sebenarnya, kita juga harus mencatat pencipta lasagna dalam sejarah peradaban manusia dan memberikan sebuah hari untuk memperingati jasa-jasanya.

Jumat, 26 Februari 2010

Dendam Bulu Babi Yang Membara (dan berasap...)

Sore itu, aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Saat itu matahari masih bersinar cukup terang. Mataku terhenti saat menatap halaman. Musimnya sudah berakhir tetapi para bulu babi masih tersebar di halaman. Aku mengeluarkan aura membunuh saat menatap mereka, berharap mereka akan mengeluarkan kaki dan berlarian meninggalkan halaman. Tetapi mereka tetap diam di tempat mereka karena itu semua hanyalah imajinasiku. 

Akhirnya dengan kekuatan seorang manusia yang baru saja menghabiskan sepiring nasi goreng dan dua potong roti bakar isi mesis coklat, daku berjuang mengumpulkan mereka yang tersebar di halaman. Setelah para bulu babi terkumpul, diriku mulai membakar mereka dengan api kebesaran! Namun, saat kupikir mereka mulai menyerah kepada maut, serangan itu terjadi.

Sebuah ledakan kecil muncul mengawali ledakan-ledakan kecil lainnya yang mulai bermunculan dari dalam onggokan bulu babi yang terbakar. Dan salah satunya berhasil menyerang diriku! Dengan geram kutumpahkan minyak ke atasnya dan mereka kembali terbakar dengan hebatnya. Tetapi rupanya bukan hanya ledakan yang mereka rencanakan. Hanya sebentar api berkobar, kemudian api mulai menghilang dan asap mulai menebal mengejar diriku.

"Tidaaaaaak!!! Ini salah kalian yang memenuhi halaman! Kalau kalian memang tidak ingin dimusnahkan seperti ini, jangan pernah datang!" Diriku mencoba bernegosiasi, tetapi apa daya. Mereka tidak mampu mendengar suaraku ataupun mengerti bahasaku. Karena mereka hanyalah bulu babi yang sekarat dan menuntut balas. Akhirnya daku berlari meninggalkan  mereka yang sekarat. Entah siapa yang mereka serang berikutnya.

Mungkin tetangga yang juga sedang memburu bulu babi di halamannya.

PS: Bulu babi adalah rambutan yang sudah mengering dan berubah warna menjadi hitam bagaikan bulu babi :D

Sabtu, 24 Oktober 2009

Crita Judul

Judul maksudnya jaman dulu.
Gak nyambung?
Iya tau kok :D

Cerita jaman dulu ada yang disebut sejarah, which bisa dibuktiin keberadaannya en bener-bener kejadian pada jaman dahulu kala. Kayak contonya, waktu kecil aku suka maen petak umpet. Persembunyian paling aman diatas poon, palagi kalo buahnya udah pada mateng :p
Ehem.. Itu adalah sejarah, bisa dibuktikan dengan kesaksian pemilik poon yang buahnya kuabisin hahaha....

Ada juga legenda. Legenda terjadi di suatu daerah tertentu, bisa juga disebut sejarah walopun kejadiannya cuman merupakan kepercayaan penduduk setempat kalo legenda itu pernah terjadi. Walo gitu, biasanya banyak juga yang nggak bisa masukin legenda ke dalam sejarah karena bukti-buktinya nggak terlalu kuat. Contonya, waktu aku kecil aku pernah jatoh ke kandang macan di kebon binatang. Itu cuman legenda karena kebenarannya nggak bisa dipercaya walopun kandang dan macannya bener-bener ada. Kidding :D

Yang terakir adalah dongeng. Dongeng adalah kejadian yang seratus persen cuman cerita. Nggak pernah terjadi.

Nah! Kalo Tangkuban Perahu, Roro Jonggrang, en tentunya Danao Toba, anehnya mreka disebut legenda. Padahal sejarah mbuktikan kejadian sebenernya dari tempet-tempet itu, bukan sebab en akibat dari kutuak-an (kutuk maksutnya). Akirnya, mau gak mau, sejarah malah jadi terlupaken en malah legenda yang lebih populer. Gak bisa dijadiin dongeng juga seh, soalnya tempetnya bener-bener ada.

Tapi lagi, ada dongeng yang jadi sejarah.
RomeJul! ( a.k.a Romlah en Juleha atawa Romeo en Juliet). Dua pasangan aneh yang populer di abad 18 ya?! Tauk ah. Mreka berdua jelas-jelas cuman dongeng. Tapi rumah RomeJul en kuburan mreka berdua bener-bener ada. Surprised? Gara-gara itu, banyak orang yang nggak begitu tahu tentang kebeneran status RomeJul mulei nganggep RomeJul adalah bagian sejarah kota Verona. Tapi, mreka cuma dongeng yang diidupin orang-orang Verona. RomeJul is never exist!!!

Trus ada legenda yang jadi sejarah.
Pasangan Paris en Helen. Pasangan yang bikin hancur 2 negara (versi laen dari Tristan&Isolde yang juga ngancurin 2 negara gara-gara affair mreka). Yah, aku nggak pernah percaya ma dewa-dewi. Si Helen yang anak dewa taw Paris yang dikasih hadian ma Hera bwatku bener-bener kayak dongeng. Tapi anehnya, dongeng itu ada dalam pelajaran sejarah waktu SMU. Sejarah harusnya kejadian yang bisa dibuktiin pernah terjadi pada jaman dulu kala kan?! Masa ada sih cowok yang digilai cewek seluruh dunia? (Gilaaaa!!!). Cewek yang direbutin seluruh dunia? Orang yang mati kalo kakinya luka? Lebih dari itu, peri?! They don't exist!!! Makanya, antara dongeng en sejarah saat itu jadi nge-blur.
Aneh!

Yakk!! Itu dia tadi Tristan en Isolde!!! Mreka adalah dongeng tentang dua orang yang ngancurin dua negara kayak Paris ma Helen. Tristan en Isolde mungkin gak seterkenal RomeJul ataw ParHel. Tapi kisah Tristan&Isolde bisa dibilang lebih tragis. Yang seru dari Tristan Isolde adalah nama mereka dipakai kapal tempur Minerva sbage nama sepasang meriam. Nah! Itu baru namanya Sejarah!!!